Experiencing Life Foundation Professional Work. Personal Touch.
Tags

jasa psikologi gading serpong

psikotes

Image

biro psikologi tangerang

konsultan psikologi tangerang

konsultasi psikologi gading serpong

praktik psikologi gading serpong

praktik psikologi tangerang

Aside

memilih jurusan kuliah

menemukan tujuan hidup

tujuan hidup

cara menjadi orang tua yang baik

pertimbangan untuk memiliki anak

tips mendidik anak

cemas

depresi

gejala depresi

konseling mengatasi depresi

terapi depresi

awal tahun

new year resolution

resolusi awal tahun

bahagia memberi

dampak psikologi memberi

makna natal

memberi dan kebahagiaan

biro psikologi

biro psikologi gading serpong

konseling mahasiswa

konseling remaja

menunda

procrastinator

psikotes gading serpong

homoseksual

konseling homoseksual

konseling lgbt

LGBT

lgbt psikologi

psikologi gading serpong

psikologi tangerang

terapi homoseksual

experiencing life foundation

beda karakter dan kepribadian

karakter

kepribadian

temperamen

berlian dan karbon

comfort zone

masalah hidup

psikolog gading serpong

psikolog tangerang

psikotes karyawan gading serpong

psikotes karyawan tangerang

kapan kawin

konseling pernikahan

konsultasi pranikah

APA editing

back translation

edit artikel

expert judgment

jasa edit APA

jasa penerjemah dokumen

penyuntingan dokumen

professional judgment

proofread artikel jurnal

proofread artikel penelitian

proofreading

menikah

jomblo

bahagia

status pernikahan

konseling tangerang

tes minat bakat tangerang

tes minat bakat gading serpong

konseling pranikah

lajang

pernikahan

pola asuh

orang tua

kedekatan

anak berbohong

psikologi anak

kesulitan

tekanan

konseling

kegagalan

kesuksesan

psikotes tangerang

wawancara psikotes

persiapan psikotes

tes grafis

tes gambar psikotes


By: Karel | May 12, 2017



Jumlah lajang (atau yang kerap dikenal dengan istilah ‘jomblo’) di Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat. Meskipun jika dibandingkan dengan di berbagai negara Barat, jumlah ini masih terbilang sedikit, tetapi jika kita lihat dari waktu ke waktu, ternyata peningkatannya terlihat cukup drastis dan konsisten. Pada tahun 2010, lebih dari seperempat penduduk berusia 35 tahun ke atas di Amerika Serikat adalah kaum lajang[1]. Di Indonesia, hasil sensus terakhir oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa 1 dari 20 penduduk berusia 35-39 tahun di Indonesia ialah lajang. Jumlah ini meningkat lebih dari tiga kali lipat dibanding tiga puluh tahun yang lalu.

 

Berbagai Penyebab Munculnya Generasi Lajang

  Lalu apa yang membuat banyak orang memutuskan untuk tetap melajang? Penyebabnya ada banyak. Ada yang mengatakan karena partisipasi perempuan di bidang industri dan pendidikan yang meningkat. Terbukti, menurut kajian Badan Pusat Statistik tahun 2016, jumlah pekerja perempuan 17% lebih banyak daripada laki-laki setiap tahunnya.  Akibatnya, banyak perempuan memiliki jenjang karier, kemapanan ekonomi, dan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi daripada laki-laki. Hal ini menjadi masalah lantaran masyarakat Indonesia masih menganut sistem perkawinan ‘hypergamy’, di mana laki-laki akan menikahi perempuan yang status sosial dan ekonominya lebih rendah darinya. Dalam skala besar, bukan hanya perempuan yang akan kesulitan mencari lelaki yang sepadan dengannya, laki-laki pun juga akan kesulitan mencari pasangan yang sesuai dengan definisi hipergami itu.

  Selain faktor sosial ekonomi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa prevalensi jumlah dewasa muda yang melajang juga disebabkan karena semakin diterimanya opsi alternatif selain menikah (misalnya: cohabitation atau yang dalam bahasa sehari-hari disebut ‘kumpul kebo’), toleransi yang semakin besar terhadap berbagai perilaku seks di luar nikah, dan tuntutan dan kesibukan kerja yang membuat waktu bersosialisasi berkurang. Faktor dari dalam diri juga turut menentukan, yakni dengan diterimanya gaya hidup lajang yang dianggap lebih menyenangkan – meski untuk konteks Indonesia, kurang data yang mendukung argumen ini.

 

Kedekatan dengan Orang Tua di Masa Lalu Menentukan Pola Hubungan Romantis

 

  Penelitian yang diprakarsai oleh Hazan dan Shaver pada tahun 1987[2] dan terus diperbaharui oleh beberapa peneliti berikutnya hingga hari ini berusaha untuk menguak keterkaitan pola asuh di masa kecil dengan pola relasi romantis yang dibangun seseorang di masa dewasa. Mereka berpedoman pada teori kedekatan John Bowlby (yang dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth).

Teori kedekatan mengklasifikasikan tiga jenis pola kedekatan: secure (aman), anxious/ambivalent (cemas), dan avoidant (menghindar). Ketiga pola ini menggambarkan reaksi seorang bayi ketika ditinggal oleh pengasuhnya. Bayi yang memiliki pola kedekatan secure akan sedih ketika ditinggal, dan segera menunjukkan rasa senang ketika pengasuhnya kembali. Bayi dengan pola kedekatan anxious, meskipun menangis ketika ditinggal, justru malah menunjukkan reaksi yang ambivalen dengan menolak berinteraksi dengan si pengasuh saat dihampiri kembali. Dalam tipe kedekatan avoidant, bayi tidak menunjukkan reaksi kesal maupun sedih saat ditinggal, pun tidak menunjukkan reaksi senang saat ibunya kembali.

Ketika dewasa, uniknya seseorang tetap menggunakan pola yang sama dalam membangun relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Misalnya, seseorang dengan kedekatan secure di masa lalu memiliki relasi romantis yang dipenuhi dengan rasa percaya. Orang dengan tipe kedekatan anxious di masa lalu sangat mudah jatuh cinta, sekaligus kesulitan menemukan cinta sejati. Terakhir, mereka dengan kedekatan avoidant mengaku sulit untuk memercayai orang lain sehingga takut untuk membangun hubungan dekat.

 

Orang Tua yang Cuek Berpotensi Membuat Anak Kelak Menjadi Lajang?

  Dengan memakai logika di atas, seharusnya para lajang ialah orang-orang yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan pengasuh di masa kecilnya, terutama mereka yang memiliki kedekatan avoidant. Ide ini kemudian dieksplorasi dalam studi yang dilakukan oleh Dory Schachner[3] dan koleganya maupun oleh Katarzyna Adamcyk[4]. Hasilnya, meskipun ada lajang yang melaporkan memiliki pengalaman masa lalu yang positif dengan orang tuanya, mayoritas lajang melaporkan hubungan yang negatif, berkonflik, dan cenderung diabaikan oleh orangtuanya saat mereka kecil.

  Manusia memang diciptakan sebagai mahkluk relasional. Seni membangun dan mempertahankan hubungan ia pelajari sejak kecil, dan rupanya terus bertahan di masa-masa hidup berikutnya. Oleh karenanya, sebagai orangtua, manfaatkanlah masa-masa mendidik anak dengan membangun relasi yang baik, karena kelak itu akan menentukan kualitas relasi anak dengan orang-orang di masa hidupnya. Sebagai orang dengan pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan, selalu ada cara untuk memperbaiki kualitas dan persepsi Anda dalam membangun hubungan, jika Anda mau berusaha lebih keras lagi dan berhenti memposisikan diri sebagai korban masa lalu.

Referensi: 

[1] Elliott, D. B., Krivickas, K., Brault, M. W., & Kreider, R. M. (2010). Historical marriage trends from 1890-2010: A focus on race differneces. Paper presented at the Annual Meeting of the Population Association of America, San Fransisco, CA. http://www.census.gov/hhes/socdemo/marriage/data/acs/ElliottetalPAA2012figs.pdf

[2] Hazan, C. & Shaver, P. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52(3), 511-524. 

[3] Schachner, D. A., Shaver, P. R., & Gillath, O. (2008). Attachment style and long-term singlehood. Personal Relationships, 15, 479-491.

[4] Adamczyk, K., & Bookwala, J. (2013). Adult attachment and single vs. partnered relationship status in Polish University students. Psychological Topics, 22(3), 481-500.

Comments:

Be the first to comment ...

Post a Comment